Banyak keluhan dilayangkan pada pemikiran filsafat. Mengapa ? “filsafat itu sulit, rumit, mumet, tak jelas,”mungkin jawaban klise yang sering dituturkan. Benarkah filsafat “sesulit” anggapan umum orang ? bisa ya, bisa tidak. Namun, masuk dunia filsafat ibarat masuk sebuah rumah. Kita akan kesulitan masuk ke dalam rumah bila tak punya “kunci” pintu rumah itu. kecuali kalau kita seorang maling atau rampok. Nah, begitu pula masuk ke “rumah” filsafat. Ada kunci untuk “terlibat” dalam membaca perdebatan lalu lintas pikiran filsafati. Apakah “kunci pintu” rumah filsafat ? disini, saya akan memcoba mengusulkan beberapa tips : bagaimana membaca pikiran filsafat dengan menyimak buku-buku filsafat.
Pertama, harus disadari bahwa filsafat, sebagian besar, merupakan telor dari perenungan “eksistensial” seorang filosof. Oleh karenanya, ketika membaca suatu karya filsafat cobalah untuk “terlibat” dalam teks dan wacana yang disajikan. Kata “terlibat” berarti kita mentransposisikan diri kita menjadi “sang filosof.” Kita menjadi “sang filosof.” Disinilah arti penting kita tahu perjalanan hidup seorang filosof. Mungkinkah hal ini dilakukan ? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan mengemukakan contoh penonton sinetron. Penghayatan, keterlibatan penonton dalam suatu alur cerita sinetron mampu membuat ia menangis, tertawa, geram, marah dsb. Salah seorang teman, waktu di asrama, satu hari mampu melahap dua sampai tiga buku Wiro Sableng. “bagaimana kamu bisa membaca buku demikian banyak satu hari,” Tanya saya. “saya jadi Wiro Sableng” jawabnya. Jelas, membayangkan diri kita jadi seorang filosof bukanlah suatu yang mustahil. Kedua, mulailah mengarungi pikiran seorang filosof dari buku-buku sekunder, pengantar, ensiklopedi. Untuk mencari “alamat” pak Ari, di Jakarta, kita wajib tahu daerah Jakarta. Cara paling mudah yang bisa dilakukan adalah dengan melihat peta Jakarta. Masuk ke teks-teks filsafat persis seperti itu. kita akan tersesat, kehilangan konteks, yang berujung pada kebingungan, ketidakmengertian, kalau kita tak terampil dan piawai membaca “peta pemikiran.” Membuka tulisan pengantar pemikiran seorang filosof dapat membantu kita menemukan peta pikiran tersebut. Ketiga, tiap filsafat merupakan merupakan sebuah paket pikiran tentang pandangan seorang filosof. Filsafat tak berangkat dari titik nol, kosong. Ia berpijak pada suatu tesis sentral, organizing principle tertentu yang mengorkestrasi bangunan ide. Dari poros pemikiran, tesis sentral, organizing principle itulah seorang filosof menganak-pinakkan pemikirannya. Bagaimana mengetahui poros pemikiran tersebut? trik terbaik melacaknya adalah dengan bertanya. Yang paling pokok untuk dipertanyakan adalah : bagaimana sang filosof memandang dan mencitrakan realitas? Sebuah pertanyaan ontologis. Lalu, bagaimana realitas tersebut bisa dimengerti ? sebuah pertanyaan epistemologis. Bagaimana guna, manfaatnya pada kehidupan konkrit? Sebuah pertanyaan etis. Konstruksi tiga pilar filsafat inilah yang, dalam tradisi filsafat, menopang bangunan pemikiran filosof. Dan, diantara trias filsafat itu, isu ontologi selalu menjadi menu utama, head-line yang disajikan terlebih dahulu oleh seorang filosof. Sebagai tambahan, yang tak kalah pentingnya, cari dan catatlah istilah-istilah kunci yang kerap digunakan sebagai instrumen koordinatif ide dari sang filosof, seperti istilah atom dalam pemikiran Demokritos. Keempat, sempatkan waktu tuk merefleksikan, memikir ulang apa yang kita “tangkap” dari teks yang kita baca.
Jumat, 13 Maret 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar